Kamis, 22 Desember 2016

Teori Negosiasi Muka Dan Teori Menghindari Kendala Dalam Percakapan


Nama : Guntur Pranajaya Putra 

No.Stambuk : 1510121112 

Fakultas/Jurusan : Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial

Mata Kuliah : Teori Komunikasi II 


Teori Negosiasi Muka 

Face-Negotiation Theory dikembangkan oleh Stella Ting-Toomey pada tahun 1988. Teori ini memberikan sebuah dasar untuk memperkirakan bagaimana manusia akan menyelesaikan karya muka dalam sebuah kebudayaan yang berbeda. Muka atau rupa mengacu pada gambar diri seseorang di hadapan orang lain. Hal ini melibatkan rasa hormat, kehormatan, status, koneksi, kesetiaan dan nilai-nilai lain yang serupa. Dengan kata lain rupa merupakan gambaran yang anda inginkan atau jati diri orang lain yang berasal dari anda dalam sebuah situasi sosial. Karya muka adalah perilaku komunikasi manusia yang digunakan untuk membangun dan melindungi rupa mereka serta untuk melindungi, membangun dan mengancam muka orang lain.

Teori ini merupakan teori gabungan antara penelitian komunikasi lintas budaya, konflik, dan kesantunan. Teori negosiasi muka memiliki daya tarik dan penerapan lintas budaya karena Stella Ting-Toomey—pencetus teori ini—berfokus pada sejumlah populasi budaya, termasuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan, Cina dan Amerika Serikat. Ting-Toomy menjelaskan bahwa budaya memberi bingkai interpretasi yang lebih besar di mana muka dan gaya konflik dapat diekspresikan dan dipertahankan secara bermakna.

Teori negosiasi muka adalah salah satu dari sedikit teori yang secara eksplisit mengakui bahwa orang dari budaya yang berbeda memiliki bermacam pemikiran mengenai “muka” orang lain. Pemikiran ini menyebabkan mereka menghadapi konflik dengan cara berbeda. Muka merupakan perpanjangan dari konsep diri seseorang, muka telah menjadi fokus dari banyak penelitian di dalam berbagai bidang ilmu.

Ting-toomey mendasarkan banyak bagian dari teorinya pada muka dan facework. Muka merupakan gambaran yang penting dalam kehidupan. Muka juga merupakan sebuah metafora bagi citra diri yang diyakini melingkupi seluruh aspek kehidupan sosial. Konsep ini bermula dari bangsa Cina. Bagi bangsa Cina muka dapat menjadi lebih penting dibandingkan kehidupan itu sendiri. Erving Goffman (1967) juga diakui sebagai sosok yang menempatkan muka dalam penelitian Barat kontemporer. Ia mengamati bahwa muka (face) adalah citra dari diri yang ditunjukkan orang dalam percakapan dengan orang lain. Goffman juga mendeskripsikan muka sebagai sesuatu yang dipertahankan, hilang atau diperkuat. Istilah ini setiap harinya dapat ditemukan dalam bahasa sehari-hari kita dengan penggunaan istilah “tebal muka”, “muka tembok”, jaim (jaga image), muka cemberut, muka kusut, dan lain sebagainya.

Ting-Toomey dan koleganya (Oetzel, Yokochi, Masumoto &Takai, 2000) mengamati bahwa muka berkaitan dengan nilai diri yang positif dan memproyeksikan nilai lain dalam situasi interpersonal. Namun demikian konsep muka ini kajian meluas tidak hanya pada konteks interpersonal namun dalam semua kontkes komunikasi. Seperti halnya bagaimana Presiden SBY—yang terkenal dengan presiden yang sangat menjaga citra—sebelum melakukan pidato, tidak jarang sangat memperhatikan penampilan apakah ia sudah nampak sempurna riasan di wajah, pecinya bahkan dasi atau aksesoris yang dikenakan lainnya. Istilah ini bisa juga bisa digunakan hingga bagaimana kita memakai pada konteks muka sebagai suatu bangsa yang besar (wajah Indonesia atau potret Indonesia).

Ting-Toomey (2004) telah memperluas pemikiran Goffman. Ia menggabungkan beberapa pemikiran dari penelitian mengenai kesantunan yang menyimpulkan bahwa keinginan mengenai muka merupakan keinginan yang universal. Ia juga berpendapat bahwa muka merupakan citra diri seseorang yang diproyeksikan dan merupakan klaim akan penghargaan diri dalam sebuah hubungan. Ia percaya bahwa muka melibatkan penampilan dari bagian depan (front stage) yang beradab kepada individu lain. Dalam hal ini, muka juga merupakan identitas yang didefinisikan oleh dua orang secara bersamaan dalam sebuah konteks komunikasi. Selain itu, muka adalah citra diri yang diakui secara sosial dan isu-isu citra lain yang dianggap penting. Oleh karena itu, muka adalah fenomena lintas budaya, yang artinya semua individu dalam semua budaya memiliki dan mengelola muka; muka melampaui semua budaya.




Keberagaman budaya sangat mempengaruhi cara orang-orang tersebut berkomunikasi. Walaupun muka adalah konsep universal, terdapat berbagai perbedaan yang merepresentasikan budaya mereka masing-masing. Kebutuhan akan muka ada di dalam semua budaya, tetapi semua budaya tidak mengelola kebutuhan muka ini secara sama. Ting-toomey berpendapat bahwa muka dapat diinterpretasikan dalam dua cara: kepedulian akan muka dan kebutuhan akan muka. Kepedulian akan muka (face concern) berkaitan dengan baik muka seseorang maupun muka orang lain. Terdapat kepentingan diri sendiri dan kepentingan orang lain. Contoh yang bisa dipakai adalah bagai mana ketika kita bertemu dengan orang yang berbeda budaya selalu berusaha menjaga image dan bersikap santun agar tidak menyinggung perasaan orang lain. Sementara kebutuhan akan muka (face need) merujuk pada dikotomi keterlibatan—otonomi. Contohnya ada sebagian budaya yang tidak suka tergantung kepada orang atau budaya lain, sehingga penampilan atau muka yang tampak bersifat cukek atau tidak peduli dengan orang lain.

Ketika muka positif atau negatif para komunikator sedang terancam, mereka cenderung mencari bantuan atau cara untuk mengembalikan muka mereka atau mitra mereka. Ting-Toomey mendefinisikan hal ini sebagai facework, atau tindakan yang diambil untuk menghadapi keinginan akan muka seseorang dan/atau orang lainnya. Stella Ting-Toomey dan Leeva Chung (2005) juga mengemukakan bahwa facework adalah mengenai strategi verbal dan nonverbal yang kita gunakan untuk memelihara, mempertahankan, atau meningkatkan citra diri sosial kita dan menyerang atau mempertahankan (atau menyelamatkan) citra sosial orang lain.

Teori ini dapat diperluas dengan mengidentifikasi tiga jenis facework, seperti dijelaskan oleh Te-Stop dan John Bowers (1991), yaitu: kepekaan, solidaritas dan pujian. Pertama facework ketimbangrasaan (tact facework) merujuk pada batas di mana orang menghargai otonomi seseorang. Facework ini memberikan kebebasan kepada seseorang untuk bertindak sebagaimana ia inginkan. Kedua, facework solidaritas (solidarity facework), berhubungan dengan seseorang menerima orang lain sebagai mana anggota dari kelompok dalam (in-group). Solidaritas meningkatkan hubungan di antara dua orang yang sedang berbicara, maksudnya perbedaan-perbedaan diminimalkan dan kebersamaan ditekankan melalui bahasa informal dan pengalaman-pengalaman yang dimiliki bersama. Ketiga, facework pujian (approbation facework), yang berhubungan peminimalan penjelekan dan pemaksimalan pujian kepada orang lain. Facework ini muncul ketika seseorang mengurangi fokus pada aspek negatif orang lain dan lebih berfokus pada aspek yang positif.
Beberapa asumsi teori Negosiasi Muka mencakup komponen-komponen penting dari teori ini: muka, konflik, dan budaya. Dengan demikian poin-poin berikut menuntun teori dari Ting-Toomey:

Identitas diri penting di dalam interaksi interpersonal, dan individu-individu menegosiasikan identitas mereka secara berbeda dalam budaya yang berbeda.
Manajemen konflik dimediasi oleh muka dan budaya.

Tindakan-tindakan tertentu mengancam citra diri seseorang yang ditampilkan (muka).

Asumsi pertama menekankan pada identits diri (self identity) atau ciri pribadi atau karakter seseorang. Citra ini adalah identitas yang ia harapkan dan ia inginkan agar identitas tersebut diterima orang lain. Identitas diri mencakup pengalaman kolektif seseorang, pemikiran, ide, memori, dan rencana. Identitas diri tidak bersifat stagnan, melainkan dinegosiasikan dalam interaksi dengan orang lain. Orang memiliki kekhawatiran akan identitasnya atau muka (muka diri) dan identitas atau muka orang lain (muka lain). Budaya dan etnis mempengaruhi identitas diri, cara di mana individu memproyeksikan identitas dirinya juga bervariasi dalam budaya yang berbeda.


TEORI MENGHINDARI KENDALA DALAM PERCAKAPAN.

Dalam interaksi sosial sehari-hari, setiap orang memiliki berbagai tujuan sosial (misalnya, dalam mencari teman , mencari bantuan, mencari informasi, mengungkapkan informasi). Untuk mencapai tujuan ini, orang harus memiliki kompetensi-yang srategis pengetahuan luas yang diperlukan untuk mencapai tujuan mereka. Dalam teori yang dikemukakan oleh M.kim (1993) bahwa gagasan tentang kendala dalam percakapan yang merujuk pada pilihan taktik komunikasi dan penilaian umum kompetensi komunikasi. Prioritas yang berbeda yang diberikan kepada kendala akan menimbulkan pendekatan yang berbeda untuk tujuan-tujuan interaksi, dan akhirnya secara keseluruhan tayangan dari antar kompetensi strategis. Berfokus pada percakapan berbasis budaya kendala, M.kim (1993) diuraikan perspektif teoretis untuk memahami dan memperkirakan perbedaan pilihan strategi percakapan yang dilakukan oleh anggota kelompok-kelompok budaya yang berbeda, secara khusus, dua kendala (wajah kepedulian dan kejelasan) yang secara teoritis dan penting terkait dengan dimensi budaya, yakni individual dan kelompok orientasi. Gagasan penting adalah bahwa membangun kelompok dan diri pribadi secara sistematis banyak mempengaruhi, seperti wajah yang memiliki arti penting yakni dukungan dan kejelasan strategi dalam percakapan. Kendala percakapan tersebut, sebagai strategi penggerak pilihan, pada bagiannya, berpengaruh pada pilihan strategi dan penilaian kompetensi lintas budaya.

Model percakapan yang dikemukakan M.kim sebelum ini yaitu percakapan kendala telah terbukti bermanfaat dan telah menerima dukungan empiris. Sebagai contoh, ditemukan bahwa ada perbedaan budaya lintas sistematika dalam pentingnya aturan paksaan ini (m.kim, 1994) dan juga dalam menengahi dan peringkat permintaan pemesanan taktik sepanjang kendala ini dimensi (kim dan wilson, 1994 ). Kerangka teori sebelumnya, namun hanya melibatkan tingkat budaya, namun ini, faktor-faktor yang memimpin orang-orang dalam satu kebudayaan untuk dikomunikasikan sama atau berbeda dari orang-orang dalam budaya lain. Model difokuskan hanya pada bagaimana budaya mempengaruhi perilaku individu.


Bagaimana-pernah, teori yang solid komunikasi antar budaya harus didasarkan pada budaya yang berlaku, maka harus didukung oleh tingkat individu maupun data tingkat kebudayaan (Leung, 1989). pendekatan tingkat individu telah menerima perhatian yang sangat sedikit dalam komunikasi antar budaya Baru saja penggunaan luas dimensi kebudayaan yang sangat berfariasi telah dikupas oleh banyak penulis karena kurangnya daya penjelas. Ketika dimensi luas seperti individual melawan kelompok atau tinggi rendah dipanggil konteks untuk menjelaskan perbedaan budaya, bagaimana atau mengapa terjadi perbedaan-perbedaan ini. 

Penggunaan budaya sebagai penjelasan perbedaan tidak sedikit untuk membantu kita memahami penyebab perilaku berlawanan secara lengkap pengaruh budaya pada perilaku komunikasi, perlu adanya campur tangan untuk menemukan variabel yang cocok untuk memahami apa itu budaya , apa saja perbedaan budaya.

Tiga unsur berikut merupakan struktur diri, yang merupakan variabel tingkat individu, dipilih:
(a) dua dimensi konsep diri, yaitu, mandiri dan independen construals diri dijelaskan oleh markus dan kitayama (1991);

(b) membutuhkan persetujuan dan kebutuhan dominasi, dan

(c) psycological gender, thats adalah, maskulinitas dan feminitas. Variabel tingkat individu ini telah sesuai perbedaan budaya dalam komunikasi.

PercakapanKendala 
Percakapan adalah tipe yang dipandang sebagai tujuan yang memerlukan tindakan diarahkan dengan orang lain. Tujuan interaksi diklasifikasikan dalam dua tipe:
(a) global atau lintas situasional golas dan
(b) situasi tujuan spesifik.

Berlawanan dengan tujuan situasional situasi dibedakan dari tujuan-tujuan spesifik dalam bahwa mantan adalah operasi selama hampir semua pertemuan sosial. 

Keprihatinan untuk kejelasan
kejelasan yang diterapkan pada percakapan perilaku, adalah kemungkinan suatu ucapan membuat satu contoh yang jelas dan eksplisit. Yaitu, perhatian untuk mengendalikan kejelasan sejauh mana maksud dari pesan secara eksplisit dan jelas dikomunikasikan kepada pendengar. Apllied untuk percakapan perilaku, kendala (atau preferensi) untuk kejelasan karena itu adalah kekhawatiran untuk mencapai dan keluar datang dalam cara yang mungkin langsung. Karena dengan adanya kejelasan terhadap percakapan yang dilakukan untuk mengantisipasi keprihatinan tersebut ketika kita berkomunikasi dengan lawan bicara kita harus bisa memberi kejelasan terhadap semua perkataan yang kita ingin sampaikan kepada orang tersebut dan harus dijelaskan apa maksud dari perkataannya tersebut.
Keprihatinan untuk menghindari terlukanya perasaan pendengar. 

Pada saat merencanakan untuk mencapai tujuan-tujuan interaksi, orang mungkin juga memperhitungkan bagaimana tindakan yang diproyeksikan dapat mempengaruhi perasaan si pendengar. "Perhatian terhadap perasaan orang lain" berkaitan dengan speaker dianggap kewajiban untuk mendukung persetujuan pendengar mencari atau si pendengar citra diri positif. Sebagai seorang komunikator yang handal kita juga bisa mengetahui perkataan yang dapat menyinggung bahkan melukai perasaan pendengar kita dangan cara tersebut kejadian terlukanya perasaan pendengar akan sedikit berkurang.

Jumat, 28 Oktober 2016

Teori Level Komunikasi

Nama : Guntur Pranajaya Putra 

No.Stambuk : 1510121112 

Fakultas/Jurusan : Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial

Mata Kuliah : Teori Komunikasi II 


BAB I 

PEMBAHASAN 

A. Latar Belakang 

             Komunikasi adalah hal yang tidak asing lagi bagi kehidupan manusia sehari-hari. Komunikasi banyak dilakukan dengan banyak cara, baik secara verbal maupun non verbal. Dalam makalah ini saya ingin mencoba menguraikan tentang cabang-cabang komunikasi dan teori yang mendasari komunikasi tersebut. Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling memengaruhi di antara keduanya. Pada umumnya, komunikasi dilakukan dengan menggunakan kata-kata (lisan) yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apabila tidak ada bahasa verbal yang dapat dimengerti oleh keduanya, komunikasi masih dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan (body language), menunjukkan sikap tertentu, misalnya tersenyum, menggelengkan kepala, dan mengangkat bahu. Hampir semua manusia bisa berkomunkasi, tetapi manusia tidak tahu teori dasar dari apa yang dikomunikasikannya. Teori pada level komunikasi akan menjadi hal yang menarik dalam bahasan ini. Dalam literatur komunikasi, dikenal istilah level komunikasi, yaitu tingkatan komunikasi berdasarkan jumlah orang yang terlibat dalam sebuah proses komunikasi. Menurut Patidar, level komunikasi ditentukan oleh dasar jumlah orang yang terlibat dalam sebuah proses komunikasi, juga oleh tujuan komunikasi. 

B. Rumusan Masalah 

1. Teori Komunikasi Intrapersonal 

2. Teori Komunikasi Interpersonal 

3. Teori Komunikasi Kelompok 

4. Teori Komunikasi Organisasi 

5. Teori Komunikasi Massa 

C. Tujuan Penulisan 

          Penulisan ini bertujuan agar semua orang tahu apa itu komunikasi, Apa saja level komunikasi, teori apa yang mendasarinya, dan pencetus komunikasi. 

BAB II 

PEMBAHASAN 

1. KOMUNIKASI INTRAPERSONAL 

A. Definisi Komunikasi Intrapersonal 

           Komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri. Komunikasi intrapersonal merupakan keterlibatan internal secara aktif dari individu dalam pemrosesan simbolik dari pesan-pesan. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya. Untuk memahami apa yang terjadi ketika orang saling berkomunikasi, maka seseorang perlu untuk mengenal diri mereka sendiri dan orang lain. Karena pemahaman ini diperoleh melalui proses persepsi. Maka pada dasarnya letak persepsi adalah pada orang yang mempersepsikan, bukan pada suatu ungkapan ataupun obyek. Menurut Lance Morrow dalam majalah Time (1998) mengatakan bahwa “berbicara dengan diri sendiri sering kali merupakan hal yang yang tidak bermartabat-pikiran jahat, pembenaran terhadap diri sendiri, serta maki-makian” (hal.98). Sedangkan menurut Joan Aitken dan Leonard Shedletsky (1997) menyatakan bahwa komunikasi intrapersonal sebnarnya lebih dari itu. Aktivitas dari komunikasi intrapersonal yang kita lakukan sehari-hari dalam upaya memahami diri pribadi diantaranya adalah; berdo’a, bersyukur, instrospeksi diri dengan meninjau perbuatan kita dan reaksi hati nurani kita, mendayagunakan kehendak bebas, dan berimajinasi secara kreatif.

B. Asumsi Dasar dan Uraian Teori 

        Pandangan psikologis ini melihat manusia sebagai kesatuan lahiriah dan karakteristik yang mengarahkannya kepada perilaku mandiri. Dan pandangan ini juga melihat pikiran individu sebgai tempat memproses dan memahami informasi serta menghasilkan pesan, tetapi pandangan ini juga mengakui kekuatan yang dimiliki oleh individu melebihi individu lain serta efek informasi pada pikiran manusia. Oleh karena itu, hampir tidak mengejutkan jika penjelasan psikologis telah menarik para ahli komunikasi, terutama dalam kajian perubahan dan efek-efek interaksi. Yang mendasari teori psikologis sosial ini adalah komunikasi non verbal. Komunikasi non verbal bisa di tunjukkan berupa ekspresi wajah, sikap badan, dan gerak isyarat. Didalam komunikasi non verbal ini tidak menggunakan bahasa dan tulisan seperti komunikasi verbal. Komunikasi non verbal pengungkapan pesannya yaitu melalui isyarat. Isyarat hanya dapat digambarkan oleh diri pribadi orang itu sendiri, sehingga proses komunikasipun dalam teori psikologis sosial ini pada dasarnya adalah diri sendiri. 

2. KOMUNIKASI INTERPERSONAL 

A. Definisi Komunikasi Interpersonal 

         Komunikasi interpersonal adalah suatu proses pertukaran makna antara orang-orang yang saling berkomunikasi. Maksud dari Proses ini, yaitu mengacu pada perubahan dan tindakan (action) yang berlangsung terus-menerus. Menurut Joseph A. Devito, komunikasi antarpribadi adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan-pesan antara dua orang atau diantara sekelompok kecil orang-orang, dengan beberapa efek dan beberapa umpan balik seketika. Komunikasi antarpersonal dinilai paling baik dalam kegiatan mengubah sikap, kepercayaan, opini, dan perilaku komunikan. Alasannya adalah karena komunikasi antarpersonal dilakukan secara tatap muka dimana antara komunikator dan komunikan saling terjadi kontak pribadi; pribadi komunikator menyentuh pribadi komunikan, sehingga aka nada umpan balik yang seketika (perkataan, ekspresi wajah, ataupun gesture). Komunikasi inilah yang dianggap sebagai suatu teknik psikologis manusiawi. Komunikasi interpersonal adalah bukan hal yang tunggal melainkan interpersonal itu komunikasi diantara dua orang. Semakin banyak kita berinteraksi dengan orang sebagai individu yang berbeda, semakin interpersonal yang komunikasi tersebut. Para sarjana studi komunikasi interpersonal bagaimana komunikasi menciptakan dan memelihara hubungan dan bagaimana mitra berkomunikasi untuk menghadapi tantangan normal dan Luar Biasa dari mainining keintiman dari waktu ke waktu (Canary Dan Stafford, 1994; Bebek Dan kayu, 1995; Spencer, 1994; kayu Dan Bebek, 006 ). Penelitian menunjukkan bahwa rekan-rekan yang mendengarkan secara sensitif dan berbicara secara terbuka memiliki kesempatan terbesar untuk mempertahankan hubungan dekat dari waktu ke waktu. Penelitian di bidang ini juga menunjukkan bahwa komunikasi adalah pengaruh yang penting tentang bagaimana mengembangkan hubungan pribadi dari waktu ke waktu. 

B. Para Pencetus dan Teori-teori Komunikasi Interpersonal 

1) Teori kebutuhan hubungan interpersonal 

2) Teori Analisis Transaksional (Transactional Analysis Theory) 

3) Teori Proksemik 

3. KOMUNIKASI KELOMPOK 

A. Definisi Komunikasi Kelompok 

         Kelompok adalah sekumpulan orang – orang yang terdiri darii tiga atau lebih. Kelompok memiliki hubungan yang intensif di antara mereka satu sama lainnya, terutama kelompok primer. Intensitas hubungan di antara mereka merupakan persyaratan utama yang dilakukan oleh orang-orang dalam kelompok tersebut. kelompok kecil adalah sekumpulan perorangan yang relatif kecil yang masing-masing dihubungkan oleh beberapa tujuan yang sama dan mempunyai derajat organisasi tertentu di antara mereka. Menurut Dedy Mulyana kelompok adalah sekumpulan orang yang mempunyai tujuan bersama yang berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama, mengenal satu sama lainnya, dan memandang mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut. Kelompok ini misalnya adalah keluarga, kelompok diskusi, atau suatu komite yang tengah berapat untuk mengambil suatu keputusan. Pada komunikasi kelompok, juga melibatkan komunikasi antarpribadi, karena itu kebanyakan teori komunikasi antarpribadi berlaku juga bagi komunikasi kelompok. Menurut Anwar Arifin komunikasi kelompok adalah komunikasi yang berlangsung antara beberapa orang dalam suatu kelompok “kecil” seperti dalam rapat, pertemuan, konperensi dan sebagainya (Anwar Arifin, 1984). Michael Burgoon (dalam Wiryanto, 2005) mendefinisikan komunikasi kelompok sebagai interaksi secara tatap muka antara tiga orang atau lebih, dengan tujuan yang telah diketahui, seperti berbagi informasi, menjaga diri, pemecahan masalah, yang mana anggota-anggotanya dapat mengingat karakteristik pribadi anggota-anggota yang lain secara tepat. Dari dua definisi di atas mempunyai kesamaan, yakni adanya komunikasi tatap muka, dan memiliki susunan rencana kerja tertentu umtuk mencapai tujuan kelompok. 

B. Para Pencetus dan Teori-teori Komunikasi Kelompok 

1) Sosial Exchange Model (Model Pertukaran Sosial) 

2) Fundamental Interpersonal Relations Orientation (FIRO) Theory 

3) Teori Perkembangan Kelompok 

4. KOMUNIKASI ORGANISASI 

A. Definisi Komunikasi Organisasi 

         Istilah “organisasi” dalam bahasa Indonesia merupakan adopsi dari kata “organization” dari bahasa Latin yang berasal dari kata kerja bahasa Latin “organizare” yang artinya to form as or into a whole consisting of interdependent or coordinated parts. Everet M.Rogers dalam bukunya Communication in Organization, mendefinisikan organisasi sebagai suatu sistem yang mapan dari mereka yang bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama, melalui jenjang kepangkatan, dan pembagian tugas. Robert Bonnington dalam buku Modern Business: A Systems Approach, mendefinisikan organisasi sebagai sarana dimana manajemen mengoordinasikan sumber bahan dan sumber daya manusia melalui pola struktur formal dari tugas-tugas dan wewenang. Menurut pendapat (Rogers dan rogers, dalam Henneman dan McEwen, 1975, hlm. 218). Organisasi didefinisikan “ suatau kumpulan atau suatu sistem individu yang bersama-sama, melalui hirarki pangkat dan pembagian kerja, berusaha untuk mencapai tujuan tertentu” . 

B. Para Pencetus dan Teori-teori Komunikasi Organisasi 

1) Teori Komunikasi Kewenangan 

2) Teori Fusi 

3) Teori Lapangan Tentang Kekuasaan 

5. KOMUNIKASI MASSA 

A. Definisi Komuniksai Massa 

    Komunikasi massa berasal dari istilah bahasa Inggris, mass communication, sebagaikependekan dari mass media communication, artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau komunikasi yang mass mediated. Istilah mass communication atau communications diartikan sebagai salurannya, yaitu media massa (mass media) sebagai kependekan dari media of mass communication. Massa mengandung pengertian orang banyak, mereka tidak harus berada di lokasi tertentu yang sama, mereka dapat tersebar atau terpencar di berbagai lokasi, yang dalam waktu yang sama atau hampir bersamaan dapat memperoleh pesan-pesan komunikasi yang sama. 

Menurut Michael W Gamble dan Teri Kwal Gamble (1986) sesuatu bisa didefinisikan komunikasi massa jika mencakup hal-hal sebagai berikut: 

1. Komunikator dalam komunikasi massa mengandalkan peralatan modern untuk menyebarkan dan mentransmisikan pesan kepada khalayak yang luas dan tersebar. 

2. komunikator dalam komunikasi massa mencoba untuk berbagi pengetahuan dengan jutaan orang yang tidak saling kenal atau mengetahui satu sama lain 

3. Pesan yang disampaikan bisa didapatkan dan diterima oleh banyak orang, dengan jutaan orang yang tidak saling kenal atau mengetahui satu sama lain. 

4. Komunikator dalam komunikasi massa biasanya berupa organisasi formal atau berbentuk suatu lembaga.

5. Komunikasi massa dikontrol oleh gatekeeper, artinya pesan yang disampaikan atau disebarkan dikontrol oleh sejumlah individu dalam lembaga tersebut sebelum disiarkan lewat media massa dan 

6. Umpan balik yamg diterima dalam komunikasi massa sifatnya tertunda Bittner: Mass communication is messages communicated throught a massa medium to a large number of people Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan dengan mengunakan media massapada sejumlah besar orang. 

Pengertian pertama: komunikasi massa adalah komunikasi yang dijtujukan kepada massa, kepada khlayak yang luar biasa banyaknya. Ini bukan berarti khlayak meliputi seluruh penduduk atau semua orang yang membaca atau semua orang ang menonton televisi, setidaknya cakupan khlayak itu besar dan pada umumnya sukar untuk didefinisikan. 

Pengertian kedua : Komunikasi massa adalah komunikasi yang disalurkan oleh pemancar-pemancar audio dan visual. Komunikasi barangkali akan lebih mudah dan lebih logis bila didefinisikan menurut bentuknya, seperti : (televisi, radio, surat kabar, majalah, film, buku dan pita.) 

William R. Rivers dkk komunikasi massa dapat diartikan dalam dua cara: 

1. Komunikasi oleh media. 

2. Komunikasi untuk massa. 

Namun, Komunikasi Massa tidak berarti komunikasi untuk setiap orang. Pasalnya, media cenderung memilih khalayak; demikian pula, khalayak pun memilih-milih media. 

B. Para Pencetus dan Teori-teori Komunikasi Massa 

1) Teori Kegunaan dan Kepuasan (Uses and Gratifications Theory) 

2) Teori Agenda Setting (Agenda Setting Theory) 

BAB III 

PENUTUP 

A. Kesimpulan 

     Memahami konteks komunikasi di dalam kehidupan sehari-hari adalah salah satu cara untuk mengetahui komunikasi lebih jauh. Dengan memahami konteks komunikasi dan level – level komunikasi, berarti kita telah paham membedakan macam-macam bentuk komunikasi, mulai dari komunikasi diri sendiri (intrapersonal) sampai dengan komunikasi yang secara luas. Lahirnya konteks komunikasi tentunya ada teori yang mendasari adanya konteks komunikasi, tidak ada satu konteks komunikasi-pun yang tidak mempunyai teori yang mendasarinya. 

DAFTAR 

PUSTAKA 

http://ariyantcool93.blogspot.co.id/2012/04/konteks-komunikasi-dan-teori-yang.html

http://www.romelteamedia.com/2014/02/level-komunikasi.html